ANCUR (Iwan Fals)
namamu selalu kubisiki
dalam tidurku dalam mimpiku setiap malam
hangat tubuhmu melekat dikulitku
beribu peluk beribu cium kita lalui
tapi kau kabur dengan duda anak tiga (dia pangkat prada)
pilihan ibumu (bapakmu)
hatiku hancur
berserakan berhamburan kayak jerohannya binatang
ya … sudah
kumenangis seadanya
sekuat tenaga ya… sudahlah
kau memang setan alas tak punya perasaan
hancuurrrrrr
doaku
diakad nikahmu
semoga si duda (dia) diracun (ditembak) orang biar terus mampus

[...] Namun sejarah berkata lain. Entah hingga saat ini aku belum menemukan jawaban paling pasti mengapa dia memutuskan untuk memilih yang lain. (link ke lagu ancur). [...]
Oleh: Refleksi 10 tahun reformasi « Boediarto’s Weblog on 12 Mei 2008
at 9:13 am
sabar ya mas…
Oleh: hanggadamai on 12 Mei 2008
at 4:23 pm