12 Mei 2008...9:08 am

Refleksi 10 tahun reformasi

Lompat ke Komentar

Judulnya keren banget ya, kaya pengamat politik saja aku ini. Nulis yang judulnya ngintelek padahal cuma mau cerita pengalaman pribadi seputar 10 tahun yang lalu saat-saat bangsa ini meradang dengan himpitan ekonomi dan kebengalan pemimpin saat itu yang membtakan hati terkadap KKN.

Tertembaknya Moses Gatotkaca saat itu aku ikut demo bareng temen2 di bunderan UGM cuma begitu udah siang aku pulang kembali ke kos dan ternyata sorenya Moses tertembak dan malamnya dengar berita itu di TV.
Saat demo bersama pak Amien dan pak Ikhlasul Amal dan terjadi peristiwa pembakaran patung Soeharto, aku ikut juga di belakang. Saat itu oleh temen diingatkan adanya intel di barisan belakang yang tampangnya ga mahasiswa banget. Padahal saat itu sebenarnya aku lagi nyusun skripsi dan mau konsultasi sama mas Pur eh ternyata mas Pur pun ikutan demo di Balairung sehingga ikutan juga. Skripsiku ikut tertunda.

Demo terbesar di Jogja 19 Mei mungkin perlu pula dicatat dalam sejarah diriku. Seadainya saat ini dalam kondisi biasa tentu aku ga akan mau untuk jalan dari Fakultas ke Ghra Sabha untuk kemudian ke Gedung DPRD dan alun2 utara Jogja melewati jl Simandjuntak, Jl. Soedirman, Jl Mangkubumi dan Malioboro dengan jalan kaki! namun dengan semangat saat itu jarak demikian jauh tak terasa. Kalaupun haus, dijalan warga pinggir jalan dengan suka rela menyediakan minum aqua gelas. sungguh heroik sekali dan siapa nyana kalau itu momen bersejarah bagi bangsa ini karena keesok harinya pak Dhe Soeharto bersedia mengundurkan diri. Begitu pengunduran diri itu aku berjanji untuk lebih konsentrasi lagi ke skripsi karena berharap dosen2 muda kampus mulai kembali ke meja dan lab masing2 serta aku berjanji untuk memperbaiki hubunganku dengan gadisku saat itu.

Namun sejarah berkata lain. Entah hingga saat ini aku belum menemukan jawaban paling pasti mengapa dia memutuskan untuk memilih yang lain. (link ke lagu ancur).

 

1 Tanggapan

Tinggalkan Balasan