menjual dengan hati
22 Desember 2008 1 Komentar
Ada 3 kisah tersebut pertama ketika teman berboncengan dengan anak dan istrinya naik motor, tidak disadari ternyata bensinnya habis di tengah jalan. Motor ditinggal dan ditunggu istri sementara dia naik angkot bersama anak (anak tidak mau ditinggal) mencari SPBU terdekat sambil membawa botol air mineral 1,5liter. Apa lacur, di SPBU dia ditolak karena aturan dari atasan melarang menjual kepada pembeli yang menggunakan wadah (botol,jerigen dsb).
Kisah kedua masih di SPBU dengan beda pelaku/tokoh. Kapasitas tanki motor yang cuma 3-4 liter sementara uang di tangan 50.000an. Wal hasil kembalian yang diiperoleh lembaran ribuan semua. Karena antrian lumayan panjang uag tidak dihitung terlebih dahulu langsung tancap gas, ngggeeeeenggg.
Kisah ketiga disebut disebuah kios fotokopian. Ketika masuk, ternyata pelayan sedang memfotokopi buku lumayan tebal, kaalau diukur mungkin ada 3 jari yang dirapatkan. Padahal maksud hati hanya memfotokopi 2 lembar saja dan minta diselingkan. Namun apa lacur, pelayan menolak,
=============================
Dalam kehidupan kita setiap tindakan yang dilakukan entah disadari atau tidak sering hati ikut berperan tak sedikit hati ditinggal dirumah dan dimata hanya ada pengerukan keuntungan sebanyak-banyaknya. Seandainya saja hati dilibatkan dalam setiap perkara dan tindak tanduk kita, betapa manis hidup ini, betapa santun dan ramah budi perkerti ini, betapa banyak yang sayang dan salute pada diri ini. Contoh cerita pertama jelas petugas SPBU tidak menggunakan hatinya untuk melayani pengguna. disaat jaman sedang sakit memang banyak yang akan mencoba mencari untung dan ada cara-cara membatasi spekulan dan oportunis seperti melarang membeli menggunakan jerigen daan botol dan sebagainya. Namun apa semua orang yang akan membeli dengan botol akan berlaku sebagai spekulan. Ada insiden yang mengharuskan dia membeli dengan botol seperti cerita itu karena kehabisan dijalan.
Cerita keduapun nampak sekali tidak menggunakan hati. Tidak perlu menyebut sebagai dosa karena dia telah menipu, dalam etika berbisnis saja dia sudah berlaku curang dan itu akan mengurangi reputasi dia. Dalam pikiran si pembeli pasti besok-besok lagi tidak akan beli disitu.
Tukang fotokopipun sebenarnya bisa menyisihkan waktu. Tidak ada salahnya melayani 2 lembar dengan menunda job yang seabreg kecuali memang dia memfotokopi secara digital.


Komentar Terakhir