Mencermati kampanye yang telah dilakukan oleh ketiga capres-cawapres nampaknya yang patut dikasihani adalah pasangan SBY-JK. Bagaimana tidak, dikarenakan incumbent maka menjadi sasaran ‘paido’ dari capres lain. Segala macam black campaign sudah mendera pasangan ini dan lebih kasihan lagi adalah tim sukses serta partai koalisi yang berusaha mati-matian menangkis semua isyu dan gosip murahan sehingga seolah sudah kehilangan tenaga untuk berkampanye tentang program, visi misi kelak.
9 Juni 2009
masa depan partai kita semua
Semoga bukan judul yang sensasional. Tulisan ini hanya sebuah cara pandang seorang manusia yang mencoba untuk tetap tsiqoh dan bukan ungkapan kekesalan, kekecewaan apalagi kampanye gelap.
Pasca Pemilihan anggota legislatif, semua partai bingung dengan hasil yang diperolah tak terkecuali partai kita semua. Hasil yang diperoleh jauh dari harapan yang selama ini dihembuskan kepada kader juga sumbar kepada media. Target yang seharusnya dicapai untuk tahun 2014 dipercepat dan dibuat express untuk 2009 ini dengan asumsi bahwa hampir semua lini di pemerintahan sudah dipegang (contoh konkret di sebuah departemen top up to root is they are).
Kebingungan ditambah ‘jurus mabuk’ masih saja dipakai walaupun secara defacto sudah merapat pada salah satu calon presiden. Amarah untuk berceraipun sempat terlontar walau akhirnya reda entah oleh apa? power share, wallohu ‘alam.
SBY adalah calon incumbent. Apa efeknya? tentu semua kebijakan dan apa yang pernah dilakukan, dikerjakan menjadi sasaran tembak dari lawan politik, dalam hal apapun. Ekonomi Neolib, jilbab istri, Boediono kejawen, istri katolik, dan masih banyak lagi. Sayangnya sebagai incumbent koalisi ini kurang bermain cantik sehingga jurus mabuk lagi yang dimainkan. Akibatnya tidak sedikit kader yang kebingungan.
Dalam sejarahnya dari kelahirannya 1998, pemilu 1999 hingga sekarang belum pernah terjadi perpecahan nyata atas suara kader partai kita semua. Disetiap keputusan yang diambil oleh Majlis Suro, Dewan Syariah Pusat maupun DPP dilaksanakan dengan tsiqoh yang bulat dan kompak entah itu dalam ranah politik, keagamaan atau kemaslahatan umat. Entah apa yang sedang terjadi, saat ini dalam menentukan pilihan capres kader terbelah menjadi dua dan tsiqoh adalah urusan nomer 10 dengan alasan kefahaman adalah yang pertama.
Jika DPP, MS dan DSP mencoba untuk menutupi atas apa yang terjadi di grass root ini, entah bagaimana masa depan partai kita semua.
26 Mei 2009
jelang Pilpres
Pesta pencontrengan udah usai dan telah diumumkan siapa saja yang dipersilakan duduk di kursi empuk gedung rakyat DPR. Ada 57 artis melenggang ke sana untuk mewakili (siapa ya? sesama artis koq terlalu besar porsinya.rakyat kecil? apa iya mereka tau penderitaan wong cilik?)
Setelah saling lirik, menghitung kemampuan, saling tawar menawar, berkhayal dan berandai-andai, partai akhirnya menentukan siapa kawan mereka untuk maju dalam pilpres 8 Juli mendatang. Tak kurang tarik ulur antar partai mewarnai perkongsian ini. Mesti ketar-ketir JK memulai lebih cepat bergandeng dengan Wiranto. Sementara Prab yang tadinya keukeuh pengen jadi RI-1 melunak setelah ditawari memegang urusan ekonomi dalam kabinet bayangan Mega. Paling seru tak lain tak bukan adalah PKS. Siapa lagi kalau bukan trio heboh yang sering kali bersuara BUKAN mewakili partainya hanya suara pribadi semata. Tanpa malu dengan sifat dan sikap partai yang selama ini santun dan adem ayem, marah besar di depan media seolah ayamnya terlindas truk di jalan. Terlalu sering ketiga ini melenceng dari sikap yang ditunjukkan partai selama ini. Ada apa sebenarnya? benarkah mencoba untuk berpola progresif revolusioner? Semoga sepak terjangnya bisa terontrol dan tidak merusak imaji partai ke depan. Kemarahan itu akhirnya diredakan dengan pertemuan petinggi dengan SBY langsung sesaat sebelum deklarasi capres.
hari-hari setelah deklarasi koalisi itu internal kader partai masih saja sibuk membahas pantas tidaknya pasangan SBY menduduki kursi calon RI-2. Benarkah kemarahan Setjen terepresentasi di grassroot? Dulu tahun 2004 dan sebelumnya partai ini terkenal banget tsiqoh-nya dengan keputusan yang telah diambil oleh petinggi DPP, MS, DSP namun sekarang ada kesan mulai membangkang. Bagaimana tidak, MS mengumumkan bahwa di kalangan kader lebih banyak akan memilih JK-WIN ketimbang keputusan yang telah diambil DPP dan MS soal koalisi. Salah satu alasan mendasar adalah istri-istri capres dan cawapres ini. Istri SBY dan Boed TIDAK BERJILBAB sementara istri JK dan WIN sudah mengenakan jilbab. It’s oke memang partai ini telah menproklamairkan diri sebagai partai dakwah sehingga diharapkan jilbab mampu ‘mendakwahi’ yang lain, namun akan kontradiktif kalau ini dipandang dari basis-basis partai yang berasal dari kalangan terdidik. Begitu sempitkah apa yang mendasari pilihan hanya karena jilbab sementara visi ke depan dari pasangan capres menjadi alasan nomor sandal? Kemana jargon politik sewaktu kampanye legislatif bahwa partai ini ada untuk semua (mencoba mengejawantahkan nilai islam yang Rahmatan lil ‘Alamien), partai yang mulai terbuka untuk siapa saja yang memilih (ingat spanduk kampanye “Biru, Merah, Kuning, Hijau milih PKS? mengapa tidak untuk Indonesia lebih maju“). Akankah jilbab dua ratus empatpuluh juta muslim digadaikan dengan jilbab dua orang ini. Wallohu ‘alam. Kita tunggu hari-hari ke depan yang makin memuakkan ini.
4 Mei 2009
masih sms, tipu-tipu
Sampai rumah hape GSM berbunyi menandakan ada message masuk.

Ternyata nomor 021-3869977 sudah terkenal sejak 2004 menipu. Terbukti di beberapa forum ada pengaduan atas nomor ini
http://www.google.co.id/search?q=(021)3869977&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a
http://www.conectique.com/forum/post.php?topic_id=193
4 Mei 2009
sms aneh
Malem mulai menjelang, siap-siap cabut dari kampus untuk pulang. Tiba-tiba hape CDMA berbunyi menandakan ada message masuk.

Dugaanku ini jelas sms nyasar. tapi yang menjadi tertuduh pertama adalah fihak telkom. Alasannya :
- pertama nomer saya saat itu adalah nomer combo dari flexi yang baru siangnya dapet.
- di sms balik ga ada balasan yang jelas, maka jelas ini bukan teman
- perputaran nomor combo sangat singkat menyebabkan terjadi seperti ini.
28 April 2009
sekolah gratis benarkah?
Belakangan Depdiknas sering sekali menampilkan iklan layanan masyarakat tentang sekolah gratis dengan bintang Cut Mini pemeran Ibu Muslimah di Laskar Pelangi.
Benarkah pemerintah mendorong adanya sekolah gratis? Amanat UUD 45 pasal 31 telah dikangkangi oleh UU 20 thn 2003 dimana diperkenankan mengembangkan sekolah bertaraf internasional (SBI). Niat awal dari SBI adalah agar kita punya SDM bertaraf internasional (?) yang mampu bersaing dengan SDM dari luar. Tapi benarkah? Siapa pemenang olympiade fisika, matematika, biologi atawa yang lain. Apakah mereka berasal dari SBI semua. NO!
Diakhirnya sekolah berlomba-lomba untuk bisa mengembangkan dirinya bertaraf internasional dengan membuka kelas khusus. Namun apa lacur, bukan anak pandai yang bisa masuk ke kelas itu tapi anaknya orang berduit. Dengan SPP 2x lipat gaji OB di kantor siapa yang sanggup untuk memasukkan anaknya di sekolah demikian?
Hancur pertama ketika saatnya ujian tiba, standar kelulusan dari anak yang sekolah di SBI tidak beda alias SAMA dengan anak yang bersekolah beratap genteng bocor, lantai plester berlubang dan dinding reyot hampir rubuh. imana letak keadilannya? Untuk meraih nilai 7.00 bagi anak SBI bukan hal susah mencari referensi diktat, buku, atau lainnya baik di perpustakaannya atau juga ke dunia maya, internet. Namun bagi anak di Cibarusah sana, atau malah di puncak Jaya atau Merauke untuk mendapat uang saku jajan di sekolah saja belum tentu dapat.
Kehancuran kedua, sekarang ini sekolah bukan hanya berlomba membuka kelas SBI tapi memetamorfosiskan sekolahnya sehingga seluruh kelas menjadi SBI. Contoh yang sudah berhembus gossipnya adalah SMA1 Bogor dan SMA1 Purworejo. Kalau sudah demikian mau kemana lagi anak pandai nan jenius tapi miskin harus sekolah. Sekali lagi, orang miskin menjadi terpinggirkan.
26 April 2009
matematika calon pasangan (capres dan cawapres)
Tulisan ini hanya mencoba me-matematika-kan politik semata. Memasangkan capres dan cawapres menggunakan metode faktorial
Mega – Prabowo : terus terang rada ngeri, tirani militerism (?)
Mega – HNW : ga mungkin. Banteng bisa terima tapi kader PKS ogah
Mega – SBY : ga mungkin. lagi jothakan koq
Mega – JK : rada ga mungkin, sama2 pengen jadi capres
Mega – HB X : mungkin pasangan cukup ideal
Mega – ? : ada ide?
SBY – JK : bukan cuma pisah ranjang, udah talak tiga
SBY – HNW : lumayan cocok
SBY – HR : katanya chemistrynya nyambung tapi PKS terima ga?
SBY – Prabowo : Hah! jangan2 ntar jadi ada wajib militer 
SBY – HB X : boleh juga tuch
SBY – ? : ada ide?
HNW – HR : partai islam moga2 mau ndukung, tapi apa cukup?
HNW – Prabowo : komplementer nich
HNW – JK : Anis Matta bisa2 keluar dari PKS
)
HNW – HB X : wah, bisa cool kali ya….
HNW – ? : ada ide?
JK – HB X : wah orde baru bisa kembali nich
JK – Prabowo : jadi gimana ya? Orba juga kayaknya.
JK – HR : hmmmm mbuh!
JK – ? : ada ide?




